Sekolah Asrama Terfavorit di Bandung

Sekolah Asrama Terfavorit di Bandung

Sekolah Asrama Terfavorit di Bandung – Yayasan Al Ma’soem Islamic Boarding School merupakan yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan yang terletak di di Jalan Raya Cipacing, No. 22 Jatinangor, Sumedang. Yayasan Al Ma’soem memiliki jenjang pendidikan lengkap mulai dari TK, SD, SMP, SMA, AMIK dan STIBANKS.

Selain itu yayasan Al Ma’soem juga merupakan sekolah yang ditunjang dengan fasilitas asrama yang sangat memadai yang bertujuan agar para siswa merasa nyaman saat berada di asrama terutama saat proses belajar mengajar berlangsung.

Yayasan Al Ma’soem merupakan sekolah terfavorit yang ada di daerah Bandung Timur dengan terus mengupayakan peningkatan mutu pendidikan baik dalam sarana maupun parasarana untuk proses kegiatan belajar mengajar.

Fasilitas yang disediakan di sekolah Al Ma’soem yaitu fasilitas asrama (pesantren) yang aman dan nyaman untuk para peserta didiknya sehingga mereka betah saat jauh dari orang tua. Ada 9 strategi yayasan Al Ma’soem dalam meningkatkan kualitas para siswa sehingga menjadi anak yang berkualitas melalui pesantren, yaitu :

1.  Selektif dalam penerimaan calon santri.
2. Menumbuh kembangkan kepercayaan pada aspek ketertiban, keamanan, kebersihan, kenyamanan, dan fasilitas umum lainnya.

3. Hubungan antar partisipan sesuai etika Islam.
4. Aspiratif dan komunikatif dalam berbagai hal.
5. Kegiatan tambahan yang bervariasi.
6. Menganggap santri sebagai bagian dari keluarga.
7. Kualitas makanan Halalan Toyiban.
8. Pola pendidikan seimbang dunia akhirat.

9. Membentuk cendekiawan muslim yang berakhlakul karimah dan memiliki keunggulan.

Daftar sekarang juga di:

Yayasan Al Ma’soem Bandung (YAMB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448
E-mail: info@masoem.com
Website: http://almasoem.sch.id/

Advertisements

Pengaruh Kraton ke Perkembangan Batik

 

eksistensi batik eksklusif Yogyakarta seorang diri enggak terkupas dari asal usul berdirinya kebangunan negara Mataram Islam yang dibuat oleh Panembahan Senopati. selagi peperangan menegakkan Mataram, Panembahan Senopati kerap berkhalwat melaksanakan pengembaraan serta laris kebatinan di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. kabarnya, lansekap dan pandangan lokasi itu, yang dihiasi oleh deburan aliran melunyah arakan rubing ataupun abar-abar karang, sudah mengilhaminya mewujudkan pola batik bayung. corak ini setelah itu jadi salah satu yang khas dari pakaian Mataram.

Pada tahun 1755 akad Giyanti membagi bagi Kasultanan Mataram menjadi dua, ialah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. semua harta kerajaan yang terdapat, termasuk aset akal budi, dibagi ke dua area tersebut. eksklusif kebulatan busana Keraton Mataram, termasuk batik, selengkapnya menjadi punya Keraton Yogyakarta. ciri itu lagi dipertahankan sampai kini, bagus motif ataupun warnanya. desain batik yang didominasi corak tanah ini kemudian menjadi cikal akan batik khas Yogyakarta.

Perkembangan batik mulanya benar masih terbatas di kawasan keraton. aksi membatik adalah komponen dari pendidikan puti adiwangsa di dalam cakupan dinding keraton. identifikasi estetika setidaknya lembut, hingga pemilikan cara membatik yang kompleks. merupakan rupa pendidikan olah rasa, ketabahan, maupun keasyikan.

ketika itu, laku membatik cuma dijalani oleh para istri raja dan putri kerajaan yang dibantu oleh para aku Dalem wanita. lamban laun, karier membatik yang belum beres mulai bisa dibawa pergi keraton buat dilanjutkan di rumah per. karna digarap nyaris tiap hari, impian membikin batik untuk diri sendiri juga tampak dari para Abdi Dalem ini. berbarengan atas itu, kegiatan membatik pun kian membengkak pada keluarga keraton lainnya, termasuk bini Abdi Dalem dan sena. Di susunan populasi, kaum yang selalu memandang keluarga keraton memakai batik pun mulai terpikat untuk menirunya.

akibatnya, daya pikat aneka batik bisa mendatangkannya keluar dari tembok keraton dan dinikmati segala golongan. Dalam prosesnya, motif-motif anyar pun bermunculan dan menjadi kekhasan sendiri bagi golongan masing-masing. Ada batik keraton dan batik kekangan yang hanya boleh digunakan oleh raja-ratu maupun ahli; batik sudagaran yang dipakai orang berekonomi tangguh akan tetapi enggak dinasti rumpun raja; batik orang tani atau rakyat yang dipakai petani dan masyarakat biasa. Dalam kondisi ini, keberadaan batik ikut menjadi ciri-ciri sosial di lagi masyarakat.